Make your own free website on Tripod.com

Menu Utama

Kitab Zhodam

Metode Latihan

Informasi Latihan

Berita Hidayatullah

Silaturahmi dan Foto

Tahukah Antum... ?

Desain oleh

Asal Usul

Thifan Po Khan

 

Beladiri Thifan adalah ilmu  perkelahian tersendiri dan pecahan dari Tae Kumfu, Tae berarti "Dahsyat, hebat, ajaib" dan Kumfu atau kungfu diartikan "Tekun, silat, tenaga terpusat dan kebaikan" yang berasas pada ajaran Budha. Saat Islam mulai menyebar ke kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur, para da'i mengembangkan ilmu bela diri muslim yang dinamakan Thifan Po Khan. Maka Tae Kumfu kemudian pecah menjadi dua jenis yaitu kungfu Shaolin yang beragama Budha dan Thifan Po Khan yang beragama Islam. Thifan Po Khan diolah dan dikombinasi dengan beladiri lainnya serta sudah dibersihkan dari unsur-unsur kesyirikan dan kejahiliyahan. Tenaga Dalam yang dianut juga mengalami perubahan, yang semula memakai Chi Kung yang masih dipelajari dalam Kungfu Shaolin sampai sekarang menjadi Dath.

 

Dalam bahasa Urwun, Thifan Po Khan memiliki arti "pukulan tangan bangsawan". Disebut demikian karena gerakan-gerakan dalam thifan relatif halus dibandingkan beladiri serumpunnya seperti Syufu Taesyu Khan yang diperuntukkan untuk pasukan penyerang, sehingga beladiri yang halus ini dianggap cocok untuk para bangsawan pada waktu itu.

 

Menurut sesepuh dan perintis kebangkitan Thifan di Indonesia, Ustadz dr.Merzedek, diperkirakan thifan lahir pada sekitar tahun 700-an, sejalan dengan perkembangan Islam ke berbagai belahan dunia.

 
Agak berbeda dengan olahraga beladiri lain yang telah berkembang di tanah air, di thifan kelompok latihan laki-laki dan perempuan senantiasa dilakukan terpisah (waktu latihan berbeda). Bahkan diusahakan pelatihnya pun yang sejenis. Gerakan-gerakan dan jurus antar dua kelompok ini juga berbeda agar masing-masing mempunyai postur tubuh sesuai dengan kodratnya; gerakan dan jurus untuk kalangan perempuan lebih halus. Hal ini untuk memenuhi syarat mutlak sebuah bela diri yang Islami, yaitu:

1. Tidak ada syirik,

2. Tidak ada kemaksiatan, yang salah satunya adalah tidak adanya percampuran laki-laki dan perempuan dalam satu larihan.

3. Menjaga fitrah kemanusiaan, sesuai dengan kodrat masing-masing.

4. Tidak menyerupai orang kafir.

 

Gerakan-gerakan dasar dalam thifan meliputi pukulan, tendangan, sapuan, bantingan, serta elakan. Latihan kelincahan seperti salto, meroda, lompat harimau, lompat meja dll sangat diperlukan untuk bertarung, terlebih jika dikeroyok banyak orang atau bertarung di dalam ruangan yang penuh barang-barang. 
Yang tak kalah penting adalah latihan pernafasan. Selain untuk kesehatan, latihan ini berguna untuk membangkitkan daht (tenaga dalam) dari tubuh kita, baik berupa daht panas maupun daht dingin. Dengan daht panas, bagian tubuh orang yang terkena akan hangus. Sebaliknya dengan daht dingin, dapat menjalarkan rasa dingin membeku pada bagian tubuh lawan hingga ke pangkal tulang.

 
Kitab Zho Dam itu merupakan sebuah kitab kuno tentang thifan karya Ahmad Syiharani, seorang pendekar thifan asal Urwun, Cina. Sayangnya tidak tercantum kapan tahun ditulisnya. Hanya diketahui, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu beberapa abad lalu oleh Hang Nandra Abu Bakar, hulu balang Sultan Iskandar Muda di Aceh.

 
Menurut Ustadz Merzedek, pada tahun 1960-an thifan sempat ramai digandrungi di kalangan pemuda Islam di kota Bandung. Mereka sangat bersemangat berlatih thifan untuk menghadapi kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada waktu itu sedang berjaya berkat dukungan pemerintah Orde Lama pimpinan Soekarno. 
Sayangnya, setelah PKI berhasil ditumpas, semangat pemuda Islam mempelajari thifan jadi menurun. "Dengan dilarangnya PKI mungkin mereka merasa musuh yang dihadapi sudah habis ditumpas, sehingga tidak ramai lagi latihannya," 

Setelah itu banyak kaum Muslimin yang mempelajari berbagai beladiri yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Menyadari hal itu, Ustadz Merzedek tidak menyerah. Ia mengajak sejumlah rekan dan muridnya untuk kembali menghidupkan thifan di kalangan pemuda Islam.

 

Tetapi memang perkembangan Thifan di Indonesia saat ini masih jauh dari harapan para perintis Thifan Po Khan di Indonesia.   

Tingkatan Tamid (murid) dan Badur (Pendekar) dalam kajian "THIFAN"
TAMID
1. Fuen-putih, artinya bersiap
2. Loin houkun-hijau, artinya mulai hijau
3. Kotlu-ungu, artinya hijau mulai masak
4. Tureiyt-biru, artinya kedewasaan
5. Konlut-rona kahwa keruntang, artinya sendapan pendekar.
6. Fuenloin-putih hijau, artinya rangkap berpikir
7. Tawgi kotlu-ungu kuning, artinya menjelang pendekar
BADUR
1. Fun tureiyt-merah biru, artinya santaran darah
2. Loin houkun-hijau dan rona kahwa keruntang, artinya tahan diri
3. Konlut fuen konlut-rona kahwa keruntang berlajur putih, artinya tahu akan harga diri
4. Fun fuenfun-putih rona merah, artinya pertahankanlah hak
5. Tughi onlu tughi-jalur kuning pada rona ungu, artinya pembela hak
Adapun seorang guru berikat pinggang rona mas.

NIZAM-i-LANAH

Dewan Pembina

Ust.dr.Marzedek

Ust. Amang Syarifudin, Lc.

Reza M "Quantum" Syarif

Imam-i Lanah

Ust. Ibtidain Hamzah Khan, Lc.

Diwan-i Syuti 

(Dewan Sekretaris)

Ishaq Sholih

Diwan-i Khaida

(Dewan Bendahara)

Bahari Ansyori Kholil

Aries Widiarto

Diwan-i Khaydam

(Dewan Pelatih)

Fahrizal

Syarif Hidayatullah

Diwan-i Tamid

(Dewan Anggota)

Suwarta

Diwan-i Fatwa

(Dewan Fatwa)

Dani

Diwan-i Hakim

(Dewan Hakim)

Nanang

Adi

Diwan-i Thyb

(Dewan Kesehatan)

Wahid Arifin

Nuruddin

RINGKASAN ILMU THIFAN POKHAN

 

Ilmu gulat Mongol, Tatar, Saldsyuk, Silat Kittan, Tayli.

 

dan

 

Ilmu beladiri Hindustan Purba/ Kargul bercampur Kungfu China Purba.

 

dan

 

Shorim Kumfu, Kumfu China Purba, Kamfahama - Yoga Dahtayana: Tatmosozu.

 

diolah oleh

 

SHURUL KHAN

Naimanka. Kraitsyu, Suyi, Syirulgrul, Namsuit, Bahroy, Taefatan, Orlug, Payug

 

 setelah diubah, ditempa, ditambah, digabung, dipilih, diteliti, dikaji dan dicobakan 

menjadi

 

 

THIFAN POKHAN

 

 

 

 

LANAH

 

Kata Lanah diambil dari bahasa arab "Lajnah" yang berarti panitia, pesantren, organisasi, jama'ah. Setelah Tae Kumfu pecah, penganut Kungfu Sholin mendirikan kuil Shaolin. Dan penganut Thifan mendirikan Lanah.

Di negeri Cina, thifan menjadi olah raga beladiri kalangan pesantren- pesantren yang lazim disebut lanah. Layaknya pesantren di sini, yang dipelajari dalam lanah tidak hanya ilmu beladiri, tetapi justru yang utama adalah ilmu-ilmu agama. Kini istilah lanah masih digunakan untuk menyebut sebuah padepokan atau tempat latihan thifan, meski bukan lagi berupa lembaga pendidikan seperti pesantren.

 

Nizam-i-lanah:

Imam-i-lanah

Diwan-i-Kyaidam

Diwan-i-Tamid

Diwan-i-Hakim

Diwan-i-Syuti

Diwan-i-Fatwa

Diwan-i-Thib

Diwan-i-Khaeda